Rabu, 29 Juni 2011

Apa pentingnya perancangan informasi yang baik?

Sering kali,ketika orang awam menanyakan kepada ahli-ahli pemasaran dan periklanan di internet mengenai apa maksud dari information architecture dan kegunaannya untuk meningkatkan popularitas situs(website),maka pada umumnya jawabannya akan sangat teknis dan cukup membingungkan,sering kali kamipun merujuk pada istilah-istilah seperti indexation dan PageRank, tetapi apabila kita menanyakannya kepada seorang web developer maka konteks jawabannya tentunya akan berbeda lagi.
Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan information architecture dalam konteks aplikasi web, atau gampangnya segala sesuatu yang berjalan di internet dan dapat dilihat dengan menggunakan internet browser
Apa yang sebenarnya dimaksud dengan Information Architecture?
Merujuk pada satu definisi yang datang dari empunya pencipta kata kata Information architecture yaitu Lou Rosenfield dan Peter Morville, secara singkat definisi dari information archicture adalah sebagai berikut
1. Rancangan informasi yang terstruktur dan mudah untuk dibagi dengan orang lain
2. Kombinasi dari sistem pengelolaan informasi dalam suatu website atau intranet sehingga mudah untuk dicari dan ditemukan
3. Bagaimana membuat informasi yang terdapat di dalam suatu website menjadi mudah untuk ditemukan dan berguna bagi orang lain
4. Suatu ilmu yang yang fokus pada perancangan penyajian informasi di media digital
Nah, dari sekian banyak definisi yang disebutkan tersebut, tidak ada satupun yang menyebutkan istilah-istilah indexation,PageRank ataupun istilah-istilah lain yang sering dipakai oleh pemasaran dan periklanan di internet. Apa yang saya mengerti adalah information architecture pada hakikatnya adalah bagaimana membuat informasi yang disajikan di internet menjadi mudah ditemukan dan berguna bagi orang lain.
Perspektif Information Architecture dari Kacamata Ahli Pemasaran Internet
Konsep utama dari para ahli pemasaran internet adalah berbicara agar bagaimana suatu situs (website) mudah ditemukan oleh suatu search engine, sehingga senantiasa akan tampil di urutan utama hasil pencarian, yang mana proses yang dilakukan oleh search engine ini pada umumnya disebut sebagai crawling dan indexation
Yang dimaksud dengan crawling adalah proses dari mesin (perangkat lunak) search engine untuk menemukan dan menyimpan halaman-halaman situs kita di database mereka. Ketika proses pertama ini selesai dilakukan maka selanjutnya halaman-halaman situs kita akan melalui beberapa proses penyaringan lagi untuk berikutnya akan di indeks (disusun) sehinga menhasilkan rangking (urutan) hasil pencarian dari nomor 1 sampai nomor buncit. Masing-masing search engine (Google,Yahoo, Live dll) mempunyai aturan-aturan tersendiri dalam melakukan proses indexation (penyususnan) untuk mendapatkan ranking dari suatu situs (website)
Sebagai konsultan pemasaran internet,kamipun menyadari pentingnya proses crawling dan indexation ini bagi kesuksesan promosi suatu website, dan segala upaya perlu dilakukan untuk mengoptimalkan proses crawling dan indexing terhadap situs kita ataupun klien kami, tetapi upaya-upaya seringkali mengabaikan faktor dari perancangan information architecture yang baik, mengapa begitu? Karena sering kali, agar dapat mencapai tujuan,maka apa yang dilakukan oleh pemasar di internet adalah praktek-praktek yang kurang begitu terpuji, seperti misalnya cloaking, yaitu suatu tehnik yang memberikan informasi sebanyak banyaknya terhadap search engine agar situs mendapatkan ranking yang baik, tetapi sering kali,ketika pengakses meng klik situs tersebut maka akan berakhir dengan kekecewaan
Oleh karena itu,berikunya saya mencoba menjelaskan beberapa langkah untuk merancang situs dengan information architecture yang baik
1. Inventaris Konten
Proses ini bertujuan untuk melakukan pengumpulan semua bahan-bahan (material) yang pada nantinya akan ditampilkan di website, proses inventarisir ini menghasilkan suatu snapshot mengenai jumlah konten yang akan ditampikan di halaman-halaman website, format yang akan ditampilkan, dan bagaimana konten akan diakses/didapatkan
2. Mendefinisikan Pengguna dari Situs
Proses ini semata-semata menciptakan suatu perencanaan menyeluruh mengenai target pengguna dari situs dan masing masing halaman yang akan dikembangkan di dalam situs (sub content)
3. Membuat Skenario Penggunaan (Use Case Scenario)
Membuat suatu skenario naratif mengenai bagaimana pengguna akan berinteraksi dengan situs
4. Membuat sitemap
Site map (peta dari informasi) adalah salah satu komponen terpenting agar kita pun sebagai pemilik/pengembang memahami alur informasi dari situs yang akan kita buat dan dinikmati oleh pengguna, usahakan agar menguji site map kita ini dengan melakukan survei kecil-kecilan, agar kita mendapat perspektif lain mengenai alur informasi yang akan kita buat di dalam situs
Contoh Sitemap yang baik
5. Kerangka Informasi dan Prototype
Apa yang dimaksudkan dengan tahapan ini adalah bagaimana kita membuat mock up dalam bentuk grafis mengenai halaman-halaman situs yang akan dihasilkan nanti
6. Story board
Setelah mock up selesai dibangun, baru kemudia kita membuat jalan cerita yang menghubungkan mock up yang telah kita kembangkan, dengan itu, kitapun dapat memahami bagaimana informasi yang disajikan di dalam suatu situs dapat dicerna secara baik pada nantinya oleh pengguna
7. Panduan desain
Proses terakhir sebelum masuk ke pengembangan/pemrograman aplikasi web, adalah membuat panduan-panduan rancangan desain dan grafis yang akan diaplikasikan pada situs, sehingga akan membuat konsistensi rancangan tampilan apabila pada satu waktu situs kita di upgrade atau expand
Apa yang saya yakini adalah information achicture merupakan syarat mutlak dan idealisme awal dari penyebaran informasi di internet, bahwasanya tehnik pemasaran yang baik, bukan semata-mata memberikan suatu informasi palsu dengan harapan mendapatkan kunjungan sebanyak-banyaknya terhadap situs kita.
Satria Bimo Aji

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar